Monday, January 24, 2011

Koteka dan Kambing Pinggir Lapangan

Permainan atraktif dan dinamis yang dulu disebut
sepak raga ini selalu menyedot perhatian. Banyak
kepentingan pun menungganginya: dari urusan
judi sampai politik. Jalan pintas kerap ditempuh
agar tim yang dijagokan menang, termasuk
menggelontorkan suap. Pemain, manajer, pelatih,
wasit, dan pengurus Persatuan Sepak Bola
Seluruh Indonesia pernah tercemar rasuah.
Sebagian terungkap, tapi lebih banyak yang lolos.
Inilah sejumlah modus yang kerap digunakan
untuk mengatur skor pertandingan.
Manajer/pelatih:
Manajer klub menelepon atau mengirim pesan
pendek ke manajer klub lawan, baik secara
langsung maupun lewat perantara. Ia
menawarkan pemainnya yang bisa dibeli. �Saya
punya lima koteka, nih. Mau beli?" Atau, �Ini ada
lima kambing siap disembelih."
Wasit:
Sebelum hari pertandingan, manajer klub
memesan wasit tertentu yang telah dikenalnya.
Tarifnya Rp 20-50 juta, tergantung tawar-
menawar dan penting-tidaknya pertandingan. Di
kamar ganti, klub akan mengirim orang untuk
menjaga wasit agar tidak �digarap" tim lain. Saat
pertandingan, wasit bisa menghadiahkan penalti,
menghujani pemain lawan dengan kartu kuning/
merah, dan tutup mata terhadap pelanggaran tim
yang membayar.
Pemain:
Untuk mengamankan kemenangan, cukup
� membeli" minimal tiga pemain klub lawan: kiper,
bek, dan penyerang. Menurut seorang pengurus
klub, penyerang ditugasi terus-menerus
menendang bola ke luar lapangan saat mendekati
gawang lawan. Pemain belakang diorder
mengendurkan penjagaan dan melakukan
pelanggaran kasar di kotak penalti. Sedangkan
kiper diminta gagal menangkap bola.
Tarif suap
Rp 5-25 juta per pemain per pertandingan
Fulus di Sekitar Lapangan
Aroma suap mulai kencang tercium dari lapangan
hijau pada 1960-an. �Kreativitas" mafia yang ingin
mengatur hasil pertandingan kian
mencengangkan.
1960
Persatuan Sepak Bola Makassar menonaktifkan
Ramang, striker andalannya, karena diduga
menerima suap.
1961
� Skandal Senayan" mengguncang sepak bola
Tanah Air. Delapan belas pemain tim nasional,
seperti Bob Hippy dan Wowo Soenaryo, serta
tiga wasit dituduh menerima suap sekitar Rp 25
ribu per orang ketika Indonesia menjamu
Yugoslavia pada laga persahabatan.
Oktober 1978
Kiper tim nasional, Ronny Pasla, dilarang
bertanding lima tahun karena menerima suap
pada ajang Merdeka Games di Kuala Lumpur,
Malaysia. Tiga rekannya diberi sanksi dua tahun.
Sedangkan Iswadi Idris dan Oyong Liza
mendapat sanksi satu tahun.
Juli 1979
Javeth Sibi, pemain klub Perkesa 78, dan empat
rekannya menerima suap Rp 1,5 juta dari bandar
judi. Mereka diberi sanksi setahun larangan
bermain.
Oktober 1979
Endang Tirtana, kiper klub Warna Agung, dan
gelandang tengah Marsely Tambayong menerima
suap Rp 1 juta dari bandar judi.
Agustus 1981
Budi Santoso, Bujang Nasril, dan M. Asyik dari
klub Jaka Utama mengantongi suap minimal Rp
100 ribu dari bandar judi. Mereka diganjar sanksi
lima tahun.
1982
Budi Trapsilo dari Persatuan Sepak Bola Medan
dan Sekitarnya dilarang bermain sepak bola
sepuluh tahun karena suap.
April 1984
Sun Kie alias Jimmy Sukisman, bendahara klub
Caprina Bali, dihukum lima tahun tidak boleh aktif
dalam sepak bola nasional karena menyuap
pemain Makassar Utama. PSSI juga membekukan
klub Cahaya Kita milik Lo Bie Tek dan Kaslan
Rosidi. Keduanya dilarang mengurusi sepak bola
lagi.
April 1987
Pemain tim nasional Noach Maryen, Elly Idris,
Bambang Nurdiansyah, dan Louis Mahodim
menerima suap saat penyisihan pra-Olimpiade di
Singapura dan Tokyo. Mereka diberi sanksi tiga
tahun.
Maret 1998
Wakil Ketua Komisi Wasit PSSI Djafar Umar dan
40 wasit lain terbukti menerima suap. Ia dilarang
aktif di sepak bola selama 20 tahun. Tapi
pengurus klub yang menyuap malah lolos.
Periode Nurdin Halid 2003-sekarang
Juni 2007
Ketua Komisi Disiplin PSSI Togar Manahan Nero
dan Wakil Sekretaris Jenderal Kaharudinsyah
dituduh menerima suap Rp 100 juta dari klub
Penajam. Sekretaris Umum Penajam Syawal Rifai
dan Asisten Manajer Arismen Bermawi dihukum
tak boleh mengurus sepak bola selama lima
tahun. Togar dan Kaharudinsyah lolos dan
sampai sekarang menjadi pengurus PSSI.
Oktober 2010
Pelatih Persibo Bojonegoro, Sartono Anwar,
mengaku dimintai Rp 10 juta oleh wasit ketika
bertanding melawan Persema Malang di Stadion
Gajayana. Satgas Anti-Suap dan Mafia Wasit PSSI
memanggil wasit Iis Permana, hakim garis
Trisnop Widodo dan Musyafar, serta wasit
cadangan Hamsir. Tak ada sanksi buat para
pengadil. Sartono justru didenda Rp 50 juta
karena berkata kasar kepada wasit.
Uang Saku Jago Kandang
Menjadi tuan rumah adalah keuntungan, baik ada
suap maupun tidak. Tapi di Liga Super Indonesia
sungguh luar biasa. Hampir tak ada tuan rumah
yang kehilangan poin pada pertandingan
kandang. Resepnya sederhana: �Kita kasih uang
saku ke wasit," kata satu manajer klub. Kalau tim
tamu ngotot bertahan, hadiah penalti di menit-
menit terakhir siap diberikan.
"

No comments:

Post a Comment