"JAUH hari sebelum dibuka, sudah terasa Kongres
Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia akhir
pekan lalu di Hotel Pan Pacific Nirwana Bali Resort,
Tanah Lot, Bali, bakal berlangsung panas. Sehari
sebelum acara, petugas keamanan hotel
menghalau siapa pun yang tak berkepentingan.
Polisi bertebaran di mana-mana. Belasan
wartawan bahkan sempat diusir karena tak punya
kartu izin meliput Kongres PSSI. Organisasi yang
dipimpin Nurdin Halid itu memang sedang
gonjang-ganjing, antara lain, karena lahirnya
kompetisi tandingan Liga Primer Indonesia (LPI).
Pertikaian klub pendukung Liga Super Indonesia,
yang bernaung di bawah PSSI, dengan klub yang
"hijrah" ke Liga Primer menambah ketegangan
kongres. Ada kabar ratusan suporter Bonek-
pendukung klub Persebaya Surabaya, yang
pindah ke LPI-akan menggelar unjuk rasa di Bali.
Bonek memprotes kebijakan Ketua Umum PSSI
Nurdin Halid yang membekukan keanggotaan
Persebaya dan melarang eks Ketua Persebaya
Saleh Ismail Mukadar menghadiri kongres. "Begini
jadinya kalau PSSI dipimpin orang seperti
Nurdin," ujar Saleh pedas. Bersama sejumlah
pendukungnya, Saleh diam-diam sudah masuk
arena kongres di hotel milik keluarga Bakrie itu.
"Nurdin selalu bikin aturan sendiri," kata Saleh
dengan kesal.
PSSI juga membekukan keanggotaan PSM
Makassar, Persis Solo, Persibo Bojonegoro, dan
Persema Malang. Selain Persis Solo, tiga klub itu
sudah pindah ke Liga Primer Indonesia. Sejak
awal Januari lalu, meski tidak direstui PSSI, liga
yang digagas Gerakan Reformasi Sepak Bola
Nasional dan pengusaha Arifin Panigoro itu
memang sudah bergulir. Meski tak diundang,
semua klub yang dicoret PSSI sudah merapat ke
Bali. "Kami menganggap surat pembekuan ini
tidak sah," kata Ketua Umum Persibo Taufik
Risnendar.
Dari luar arena kongres, serangan terhadap PSSI
tak kalah gencar. Sejumlah mantan pengurus
PSSI-antara lain Sumaryoto, Tondo Widodo, dan
Abu Bakar Assegaf-menggugat kepengurusan
Nurdin Halid di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
"Mereka cacat hukum dan harus mundur
secepatnya," kata Harjon Sinaga, kuasa hukum
para penggugat.
Meskipun PSSI dirundung setumpuk masalah,
sepak bola Indonesia dua bulan terakhir ini
mendadak jadi buah bibir masyarakat. Ditangani
pelatih asing Alfred Riedl, tim nasional mencapai
final Piala Federasi Sepak Bola ASEAN, Desember
lalu. Ketika tim nasional "tewas" di tangan negeri
jiran Malaysia, publik kembali menyorot
kepemimpinan buruk Nurdin Halid.
Selama tujuh tahun Nurdin memimpin PSSI,
boleh dikata tak ada prestasi membanggakan.
Indonesia tak sekali pun merebut Piala ASEAN.
Satu dekade terakhir, Indonesia cuma jadi
penggembira di panggung sepak bola dunia.
Kompetisi kacau-balau, diwarnai kericuhan, baku
hantam, juga dugaan pengaturan hasil
pertandingan.
Pada pertengahan 2010, sebuah kantor auditor
internasional diundang mencari tahu apa yang
salah dengan pengelolaan klub-klub di Indonesia.
Auditor itu memeriksa 16 klub-sebagian besar
bertarung di Liga Super Indonesia, kompetisi
divisi utama di negeri ini-dan menemukan fakta
memprihatinkan. Meski menelan dana Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah sampai puluhan
miliar setiap tahun, hanya tiga klub yang punya
laporan keuangan teraudit. Bahkan hanya empat
klub yang berbadan hukum. Selebihnya tak jelas
bentuk organisasinya.
Semua klub tidak punya sistem pembukuan
standar. "Laporan keuangan hanya dibuat dengan
program Excel dan bisa diakses siapa saja tanpa
proteksi memadai," tulis laporan itu. Semua klub
tidak punya aset. Stadion, asrama, dan kendaraan
merupakan pinjaman pemerintah daerah.
Manajemen dan pemain datang dan pergi.
Sebagian pemain dan pelatih tak punya kontrak
hitam di atas putih. Laporan setebal 165 halaman
itu menunjukkan betapa kacau manajemen sepak
bola di negeri ini.
Tak mungkin prestasi lahir dari keadaan runyam
begini. Ada indikasi, dalam kompetisi, semua bisa
diatur. Segala cara dianggap halal, termasuk
mengatur wasit, kartu kuning dan merah, juga
skor pertandingan. Bahkan pengaturan diduga
sampai pada penentuan klub juara. Kemenangan
diraih lewat jalan apa saja, demi
mempertahankan kucuran anggaran (APBD) dan
prestise daerah.
"
"
STADION seakan segera meledak. Teriakan dan
nyanyian puluhan ribu suporter kedua
kesebelasan memecahkan telinga. Minggu ketiga
Februari tahun lalu itu Persebaya Surabaya
bertamu ke kandang Arema di Stadion
Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, dalam
kompetisi Liga Super. Aremania dan Bonek
"bertempur" adu keras suara, memberi semangat
kedua tim yang menyerang silih berganti.
Tak ada yang aneh sampai menjelang menit
terakhir. Tiba-tiba, hanya semenit sebelum peluit
panjang ditiup wasit, ketika pemain Persebaya,
Anderson da Silva, berebut bola dengan pemain
lawan, pemain Arema jatuh di kotak penalti
Persebaya. Prittt.... Wasit Olehadi dari Tangerang
menunjuk titik putih: penalti untuk Arema. Stadion
seperti pecah oleh gemuruh teriakan Aremania.
Kapten Arema, Pierre Njanka, mengeksekusi
tendangan "12 pas" itu dengan mulus. Arema
unggul satu gol.
Seusai pertandingan, Saleh Ismail Mukadar, yang
ketika itu masih menjabat manajer, tak sanggup
menahan marah. Dia menuntut polisi memeriksa
dan menahan wasit Olehadi. Saleh menduga ada
"faktor nonteknis" yang membuat Persebaya
kalah. Wasit tak akan memberikan penalti jika tak
ada pelanggaran yang mencolok mata. "Sejak itu
saya mulai curiga kepada pemain saya sendiri,"
kisah Saleh tentang kejadian buruk itu.
"Faktor nonteknis" dalam sepak bola Indonesia
merupakan istilah sopan pengganti "pengaturan"
dari luar lapangan-sesuatu yang tak ada
urusannya dengan keterampilan menggocek bola
atau melesakkan bola ke gawang lawan. Klub
yang hebat dalam menyerang bisa sangat
frustrasi jika wasit terus-menerus meniup peluit
tanda penyerang berdiri offside-berdiri di
belakang barisan pertahanan lawan ketika bola
dioper. Di menit-menit penghabisan, klub yang
andal bisa kalah dengan konyol bila wasit
mendadak memberi lawan hadiah penalti untuk
pelanggaran kecil. Pemain juga punya sejuta trik
untuk "mengundang" wasit memberikan kado
penalti.
Penyelidikan Saleh Mukadar akhirnya
mengungkap kebusukan itu. Seorang pemain tim
"Bajul Ijo"-julukan Persebaya-mengaku ada lima
pemain di tim itu yang bisa "dibeli" di Liga Super.
Pemain belakang tim itu terkenal spesialis
membuat blunder alias kesalahan fatal-yang
ternyata merupakan "pesanan". Dari 22
pertandingan paruh pertama musim lalu, gawang
Persebaya kemasukan 36 gol. "Kami akhirnya
sepakat merombak tim," kata Saleh.
"Perdagangan gol" bukanlah barang baru.
Sejumlah sumber yang dihubungi Tempo
mengaku sub-agen pemain atau bahkan pemain
sendiri sering datang menawarkan diri untuk
bermain "sandiwara". Biasanya mereka datang
sehari sebelum pertandingan. Setelah deal,
manajer tim lawan akan berhubungan melalui
pesan pendek. Bahkan sumber Tempo
mengungkapkan, sebuah klub cukup mendapat
tiket pesawat pulang untuk mau menerima
kekalahan dengan selisih gol tipis.
Isi pesan pendek untuk mengatur pertandingan
itu lucu-lucu. Ada yang menawarkan, "Ini ada
lima kambing siap disembelih, tertarik atau tidak?"
Tarif "kambing" alias pemain yang bersedia
membuat timnya kalah itu bervariasi antara Rp 5
juta dan Rp 10 juta. "Besarnya tergantung tim dan
penting atau tidaknya pertandingan," kata sumber
itu. Pemain sering kepepet, karena gaji bulanan
sering terlambat. Nilai kontrak pun kadang
disunat.
Akhir Februari 2010, Persebaya akhirnya
memecat pelatih Danurwindo. Pelatih senior Rudy
William Keltjes masuk. Namun itu bukan akhir
nasib buruk Persebaya. Dua bulan kemudian,
Persebaya makin terpuruk di zona degradasi.
Mereka terancam jatuh ke Divisi Utama. Pada
pertandingan menentukan, melawan Persik
Kediri, akhir April 2010, terjadilah insiden yang
praktis membunuh peluang Persebaya.
"Empat hari sebelum pertandingan di Kediri, izin
polisi tidak turun," kisah Saleh Mukadar.
Alasannya, pertandingan terlalu dekat dengan
pemilu. Panitia lalu memindahkan laga ke
Yogyakarta sepekan kemudian. Lagi-lagi
pertandingan batal. "Sesuai keputusan Komisi
Disiplin, seharusnya kami menang walk-out 3-0,"
ujar Saleh. Dengan begitu, Persebaya lolos dari
degradasi. Namun Persik meminta banding.
Komisi Banding PSSI memutuskan pertandingan
itu ditunda sampai Agustus. Lokasinya pun
ditetapkan di Palembang. Frustrasi dengan
keputusan PSSI, Persebaya menolak bertanding
dan dinyatakan kalah.
Saleh pun meradang. Anggota DPRD Jawa Timur
dari Fraksi PDI Perjuangan ini dengan lantang
menyatakan, "Kami memang sengaja
disingkirkan untuk menyelamatkan tim lain." Tim
yang lolos dari zona degradasi ketika itu adalah
Pelita Jaya-klub milik Grup Bakrie. Ketika ditanya,
Manajer Pelita Jaya, Lalu Mara Satriawangsa,
menampik tudingan Saleh. "Biasa, kalau kalah
pasti marah-marah," katanya santai.
APRIL 2010. Musim kompetisi tinggal sebulan lagi.
Arema masih kokoh bertengger di pucuk
klasemen, ditempel ketat Persipura Jayapura. Klub
asal Papua ini siap menyalip jika Arema kalah
dalam pertandingan berikutnya.
Laga yang menanti Arema tidak sembarangan.
Mereka harus menghadapi Persiwa Wamena di
kandang lawan, Stadion Pendidikan, Kabupaten
Jayawijaya, Papua. Selama kompetisi Liga Super
berlangsung, tak ada satu pun tim sepak bola
yang bisa mengalahkan Persiwa di kandangnya.
"Persiwa Wamena ini tim aneh, karena selalu
mendapat penalti di menit-menit akhir," kata
pelatih Arema, Robert Alberts, sebelum berangkat
ke Papua. Gol ajaib akibat keputusan wasit yang
ganjil memang kerap terjadi pada pertandingan
Liga Super di Papua. Walhasil, Arema seperti
menjalani misi mustahil.
Pemain Arema juga "terteror" insiden kasar
dalam pertandingan dua pekan sebelumnya di
Wamena. Pemain-pemain Persiwa tak hanya
mengalahkan Persisam Samarinda dengan satu
gol, tapi juga memukuli enam pemain Persisam.
Manajer Persiwa Jhon Banua bahkan turun ke
lapangan dan memukul pemain hanya karena ada
pemain Samarinda yang memprotes gol tunggal
Persiwa yang dianggap offside. Jhon sudah
meminta maaf atas insiden memalukan itu.
Tapi, di luar dugaan banyak orang, Arema justru
menang 2-0. Lewat pertandingan yang bersih,
Arema bermain cantik. Dua gol Arema dicetak
Muhammad Ridhuan dan Roman Chmelo.
Ketika dihubungi dua pekan lalu, Jhon Banua
mengaku masih ingat betul pertandingan
menentukan itu. "Saya marah sekali," kata Wakil
Bupati Jayawijaya itu. Itulah kekalahan pertama
dan satu-satunya Persiwa di kandang sendiri.
"Sepertinya PSSI memang memberi kesempatan
kepada Arema untuk juara pada musim lalu," ujar
Jhon bersungut-sungut.
Apa rahasianya? Arema mengaku meminta tim
khusus PT Liga Indonesia memantau
pertandingan di Wamena. "Kami ingin
mengantisipasi semua faktor nonteknis," kata
Manajer Arema Mudjiono Mudjito. "Apa salahnya
menghubungi semua pihak terkait untuk berjaga-
jaga?" Artinya, Arema menang justru ketika
pertandingan tidak diganggu "keanehan" macam-
macam.
Menurut sumber Tempo, kejadian di Wamena itu
indikasi bahwa Arema memang "dikawal"
petinggi PSSI. Di Liga Super dan divisi-divisi di
bawahnya, memang sudah jamak dikenal
pentingnya sebuah klub membeli "pengawalan"
khusus dari "bapak asuh". Biasanya mereka
adalah petinggi PSSI.
Di Kalimantan, tim Divisi I seperti Persepar
Palangkaraya, misalnya, pernah menghabiskan
Rp 400 juta untuk urusan ini. Sigit Wido, Wakil
Sekretaris Umum Persepar, mengaku
menyerahkan fulus itu dalam beberapa tahap
kepada Subardi, Ketua Badan Liga Amatir
Indonesia, dan anggota Komite Eksekutif PSSI.
"Itu harga paket untuk mengantarkan kita naik ke
divisi berikutnya," kata Sigit.
Dihubungi terpisah, Subardi membantah cerita
ini. "Itu pembunuhan karakter," katanya. Menurut
dia, yang ada di PSSI adalah pembagian wilayah
untuk pembinaan klub. Sejumlah anggota Komite
Eksekutif PSSI mendapat tugas dari Nurdin Halid
untuk mengawasi wilayah tertentu.
Subardi, misalnya, ditugasi mengawasi klub-klub
di Jawa. Anggota lain, Mafirion dan Muhammad
Zein, bertanggung jawab mengawasi Sumatera.
Nurdin sendiri mengawasi langsung klub di
Sulawesi dan Kalimantan. "Pembagian ini
berdasarkan kedekatan kami dengan kultur
setempat," kata Subardi.
Singkat cerita, pada Mei 2010, setelah bermain
imbang 1-1 dengan PSPS Pekanbaru, Arema
resmi menjadi juara. Ribuan suporter Aremania
membanjiri pertandingan terakhir Arema di
Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan,
Jakarta. Di sana, Arema mengempaskan Persija
2-1. Lengkap sudah kesaktian tim Singo Edan.
"
"
KALAU dirunut ke belakang, Arema
sesungguhnya bukan tim andalan. Ketika musim
dimulai, September 2009, mereka nyaris bubar.
Pemilik Arema, PT Bentoel Indonesia, mendadak
menarik diri. Perubahan kepemilikan di Bentoel
adalah biang keladinya. British American Tobacco,
pemilik baru perusahaan rokok itu, melarang
Bentoel mengurus klub olahraga.
Arema pun kelimpungan. Apalagi orang-orang
Bentoel di Arema mundur satu per satu. Darjoto
Setyawan, Ketua Yayasan Arema, dan Gunadi
Handoko, Direktur Utama PT Arema,
mengundurkan diri. Berbagai skenario
penyelamatan pun dicoba. Mereka bahkan pernah
menjajaki merger dengan klub sepupunya,
Persema Malang. Tapi gagal.
Ketika krisis itulah ikatan lama antara keluarga
Bakrie dan Arema hidup lagi. Di masa awal
pendiriannya, pada 1987, Arema pernah
mendapat bantuan Rp 61 juta dari Nirwan
Dermawan Bakrie. Ini jumlah yang lumayan
besar untuk zaman itu. Andi Darussalam
Tabusalla, ketika itu menjabat Sekretaris Galatama,
juga terhitung pendiri Arema.
Kini Nirwan dan Andi jadi orang penting di PSSI
dan PT Liga Indonesia. Nirwan adalah Wakil Ketua
Umum PSSI dan Komisaris Utama PT Liga.
Sedangkan Andi Darussalam-orang kepercayaan
keluarga Bakrie dalam penyelesaian krisis Lapindo
di Sidoarjo, Jawa Timur-adalah Presiden Direktur
PT Liga.
Nama keduanya tercatat dalam akta notaris
pendirian PT Liga, tertanggal 8 Oktober 2008.
Dalam akta itu tertulis bahwa pemilik mayoritas
saham PT Liga adalah PSSI, yang diwakili Ketua
Umum Nurdin Halid dan Sekretaris Jenderal
Nugraha Besoes.
Sumber Tempo di dalam manajemen Arema
membenarkan adanya bantuan Bakrie.
"Jumlahnya lebih dari Rp 7 miliar," katanya. Ketika
mulai berlaga di musim ini November lalu, klub
itu memang masih berutang Rp 7,1 miliar.
Peran Andi Darussalam tak kalah besar. Dia turun
tangan langsung ketika Arema mengalami krisis
keuangan. "Saya punya ikatan batin yang kuat
dengan Arema," ujarnya ketika itu. Menurut Andi,
Arema harus diselamatkan untuk menjadi proyek
percontohan bagaimana sebuah klub profesional
dikelola dan sukses. Tak hanya soal dana, Andi
juga mencarikan pelatih dan pemain asing terbaik.
Keterlibatan Andi dan Nirwan inilah yang-mau tak
mau-membuat Arema disegani klub lain. "Mana
ada yang berani mengganggu Arema?" kata
seorang pengawas pertandingan. Ketika sebagian
klub lain berjibaku, kasak-kusuk kanan-kiri
menyiasati "faktor nonteknis", Arema bisa
melenggang. Gelontoran dana Rp 4,5 miliar untuk
Arema dari Ijen Nirwana-perusahaan
pengembang perumahan milik Grup Bakrie-di
awal musim ini mempertegas kedekatan antara
Arema dan keluarga Bakrie.
Sumber Tempo menyebutkan ada deal lain di
balik kemenangan Arema di Liga Super. Bank
Rakyat Indonesia kabarnya sudah dijajaki untuk
jadi sponsor utama jika Arema juara. Nilai kontrak
itu mencapai Rp 20 miliar. Tapi batal. "Arema
memang pernah memberi presentasi di hadapan
manajemen BRI. Tapi kami menolak karena
sudah berkomitmen membantu basket dan
karate," kata Muhamad Ali, Sekretaris Korporat
BRI.
Joko Driyono, Direktur Utama PT Liga,
menegaskan tidak pernah ada skenario
mengangkat Arema jadi juara. "Itu hanya
ungkapan kekecewaan tim yang kalah," ujarnya.
Andi Darussalam hanya berkomentar singkat,
"Soal itu tanya Pak Nugraha saja. Kami sudah
sepakat dia juru bicaranya."
Ketika dihubungi, Sekretaris Jenderal PSSI
Nugraha Besoes hanya tertawa dan menolak
berkomentar panjang. "Itu ribut-ribut lama,"
katanya. Sama seperti Joko, dia menilai kabar ini
hanya isu yang diembuskan pihak yang kecewa.
Nirwan Bakrie sendiri menanggapi tuduhan ini
dengan ringan. "Saya juga dengar itu," katanya
sambil tersenyum. Tapi dia membantah punya
andil memenangkan Arema jadi juara Liga Super.
"Arema memang bagus. Mereka jadi juara ya
karena menang terus," ujarnya.
Ketua Satgas Anti-Suap dan Mafia Wasit PSSI
Bernhard Limbong mengakui memang tak
mudah menembus mafia pertandingan dan
membongkar praktek suap-menyuap di tubuh
PSSI. "Ini seperti bau kentut. Semua mencium
dan merasakan, tapi sulit dicari buktinya,"
katanya.
"
No comments:
Post a Comment