Monday, January 24, 2011

KORUPSSI Sepak Bola

[KORUPSSI] Aneka Akting Lapangan Rumput
Sepak bola lekat dengan jalan hidup Vigit Waluyo.
Ayahnya, H M. Mislan, merupakan tokoh
legendaris pendiri klub Delta Putra Sidoarjo-
disingkat Deltras. Kini ia pun menjadi figur penting
dalam persepakbolaan Jawa Timur. Selain
memimpin pengurus Persatuan Sepak Bola
Seluruh Indonesia Jawa Timur, ia mengelola
sejumlah klub "binaan".
Vigit menangani antara lain Persikubar Kutai Barat,
Mojokerto Putra, Mitra Kutai Kartanegara, dan
Deltras Sidoarjo. Ia juga menangani Persiwangi
Banyuwangi dan menjadi Manajer PSIR
Rembang. Dengan posisinya, ia tak kesulitan
ketika menangani Persebaya Surabaya, yang
pengurus lama klubnya bergabung ke Liga
Primer Indonesia dan berganti nama menjadi
Persebaya 1927. Ia segera memboyong para
pemain dan pelatih Persikubar ke Surabaya.
Para pemain di klub binaan Vigit rata-rata berusia
tua buat ukuran sepak bola. Tapi bukan sekadar
teknis yang dituntut. Mereka jagoan "nonteknis",
istilah yang sering dipakai buat menyebut urusan
menyuap wasit dan pemain. "Dia punya puluhan
pemain sepak bola, yang selalu mengikutinya ke
mana pun," kata seorang pemasok pemain asal
Jawa Timur.
Vigit siap "menangani" klub bergantung pada
dana yang ditawarkan. Satu klub sepak bola di
Jawa Timur pernah meminta bantuannya dengan
tawaran Rp 10 miliar. "Saya tidak mau
menanggapi tuduhan macam-macam," katanya
ketika dimintai konfirmasi soal suap-menyuap.
"Kalau memang materi pemain dan pelatihnya
bagus, pasti menang."
Pemain merupakan unsur penting dalam
patgulipat pengaturan hasil pertandingan.
Bagaimana caranya? Kejadian Agustus tahun lalu
ini bisa menjadi contoh. Ketika itu, lima orang
pemain Persis Solo-Nova Zaenal Muttaqin,
Haryadi, Eko Kancil, Andry, dan Tommy
Haryanto-dihubungi nomor tak dikenal yang
mengaku Manajer Persiku Kudus. Penelepon
meminta mereka tak tampil pada laga playoff
Divisi Utama di antara kedua klub di Stadion
Jatidiri, Semarang.
Mereka diimingi uang setara dengan sisa gaji
yang belum mereka terima dari Persis. Mereka
juga akan direkrut ke Persiku pada musim
selanjutnya. "Kami tak tahu apakah itu benar
Manajer Persiku Kudus atau bukan. Saat kami
coba hubungi balik, nomornya tak aktif," kata
Nova, gelandang serang yang kini bergabung ke
PSIM Yogyakarta.
Seorang pengurus klub yang biasa menjalankan
trik "membeli" pemain mengatakan operasi selalu
dilakukan rapi dan tanpa jejak. Tawaran tak
pernah disampaikan melalui SMS. "Kalaupun perlu
menelepon, akan menggunakan nomor yang tak
akan dipakai lagi," katanya. Modus ini yang dipakai
buat mendekati lima pemain Persis.
Menurut pengurus itu, trik "membeli" pemain
membantu timnya melaju ke Liga Super. Selama
bertarung di Divisi II pada 2002 hingga lolos Divisi
Utama pada 2008, klubnya memanfaatkan jasa
para calo penghubung beberapa pemain yang
bisa "dibeli". Klub juga memelihara "tim buser
wasit", kelompok wasit yang dapat disuap. "Ini
cara kami berjuang dalam sistem yang kotor,"
katanya.
Permainan gelap ini banyak dilakukan lewat
perantara yang merangkap sub-agen, yang
menawarkan transfer pemain ke klub tapi tak
mengantongi lisensi. "Mereka memiliki lobi dan
jaringan kuat dengan para pemain," kata sumber
yang sama.
l l l
Permainan kotor melibatkan tiga-lima pemain,
yang menerima suap Rp 5-25 juta per pemain
pada kompetisi Divisi 1 dan 2. Pada tingkat divisi
ini, gaji para pemain sering terlambat. Klub yang
mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah terikat sistem keuangan daerah yang
pencairannya pada bulan tertentu.
Di Divisi Utama dan Liga Super, suap minimal Rp
25 juta per pemain. Kongkalikong lebih sulit
dilakukan di level ini. "Sebab, banyak sorotan
media, mereka menjadi selektif," katanya. Para
calo mendapat jatah 20-30 persen dari nilai suap,
dibayar tunai, tak pernah transfer. Pembayaran 10
persen di muka, dan sisanya setelah klub
"pengguna jasa" menang.
Pengurus klub tak memberikan arahan detail
urusan akrobatik yang harus dilakukan pemain.
"Mereka paham situasi," katanya. Ada seribu cara
membuat pertandingan kacau demi
menguntungkan klub yang bayar.
Berpura-pura dan marah paling mudah dilakukan.
Aksi ini membuat pemain diganjar kartu atau
menaikkan emosi dan menurunkan semangat
tim. Modus lain yang paling sering dilakukan
adalah bermain kasar di daerah penalti sendiri.
Bisa juga pura-pura tak mampu membendung
bola lawan.
Ada trik sejak 1980-an yang masih dipakai para
penjaga gawang "bayaran" hingga sekarang.
Kiper menyatukan telunjuk dan jari tengah dalam
satu lubang jari sarung. Lalu jari manis disatukan
dengan kelingking, juga di satu lubang. Alhasil,
dua lubang jari sarung kosong. Tentu saja, bola
gampang lolos dari tangkapan. Setelah
kebobolan, kiper akan segera pasang tampang
kesal dan kecewa. Ia melepas dan membuang
sarung tangannya.
Beberapa pemain asing pun bisa dibeli. Nilai
kontrak para pemain asing tak berbeda dengan
pemain lokal kelas menengah ke bawah. Sebagian
mendapat bayaran sekitar Rp 150 juta setahun.
Selain pas-pasan, pembayarannya pun tak sesuai
dengan kontrak.
Pemain asing asal Paraguay, Roberto Acosta, saat
bermain di Deltras pada 2008 mengeluhkan 25
persen atau Rp 50 juta sisa kontrak belum
dilunasi menjelang kontrak berakhir. Padahal 25
persen dari kontrak biasa diterima di awal
kompetisi dan 75 persen diterima tiap bulan
sebagai gaji.
Mantan General Manager Deltras George
Handiwiyanto saat serah-terima kepengurusan
menerima banyak sekali keluhan pemain asing.
Menurut George, ada pemain yang dikontrak Rp
100 juta dan hanya menerima setengahnya.
"Separuhnya dinikmati agen dan oknum
pengurus klub, itu masuk kantong pribadi," kata
George.
Hal senada diungkapkan mantan Manajer
Persitara, Harry Ruswanto. Pemotongan kontrak
pemain asing biasa dilakukan. Kalau pemain
berkeberatan kontraknya dipotong, angka dalam
kontrak dinaikkan. Bila harga pemain Rp 200 juta,
kontrak yang tertera Rp 300 juta. Sisanya Rp 100
juta untuk kepentingan agen dan pengurus.
George sempat melaporkan masalah kontrak dan
pertanggungjawaban keuangan yang tak beres di
Deltras. Namun penyelidikan Kejaksaan Negeri
Sidoarjo menguap. "Kasus ini sudah selesai, saya
tidak ingin ada apa-apa lagi pada diri saya," ujar
George. Soal kasus kontrak, Roberto yang
sekarang bermain untuk klub di Vietnam tak
memberikan jawaban atas konfirmasi Tempo
lewat surat elektronik.
Tak semua pemain asing kaya mendadak setelah
dikontrak klub di Indonesia. Mereka pun bersedia
menerima "penghasilan tambahan". Menurut
seorang pengurus klub, pemain asing dapat
dihubungi lewat para agen. "Biasanya agen
enggak enak menolak permintaan klub," katanya.
Klub menghubungi agen bila lawan mainnya
memiliki pemain dari agen yang sama. Selain itu,
kedua pemain asing tersebut berasal dari negara
yang sama. "Mereka sulit diawasi, apalagi bila
menggunakan bahasa asing yang tak dikenal,"
katanya.
Sub-agen yang banyak mengorbitkan pemain
asing kelas menengah, Julian Baros, membantah
tuduhan itu. "Tak pernah ada yang menawari
saya cara seperti itu," katanya. Agen senior Eko
Soebekti juga mengatakan tidak ada permainan
seperti itu.

No comments:

Post a Comment